Lagi asik ngobrol, silaturahim ke saudara eh tiba-tiba ditanya: “Kamu kapan nikah?”, “Buruan nikah”, “keburu dikejar umur lho”. Rasanya ituh disini ya, hehehe.
tahukah ujian seperti apa saja yang dihadapi para lajang yang belum menemukan jodohnya?
“Aku mau dilangkahi lagi, nih, sama adikku. Padahal dia belum lulus kuliah dan usianya 13 tahun lebih muda dari aku,” tutur Hana (35) pada Rini sahabatnya. Dua tahun sebelumnya, salah satu adik Hana juga telah menikah lebih dulu, kini giliran si bungsu. Tinggallah Hana, dari tiga bersaudara, cemas dengan dirinya.
Padahal, Hana menyandang gelar master dan memiliki karier bagus di perusahaan terkenal di Jakarta. Apa yang salah? Kenapa jodohku tak kunjung datang? Bagaimana kalau aku semakin tua dan sulit memiliki anak? Apakah aku akan melajang seumur hidup? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu pun bermain-main di benak Hana.
Kecemasan yang melanda Hana jamak dijumpai perempuan yang tak kunjung bertemu jodoh di usia matang. Pemikiran bahwa laki-laki lebih memilih perempuan yang berusia muda, khawatir akan keterbatasan masa reproduksi, sampai bayangan kesendirian hingga akhir hayat menjadi momok yang menghantui mereka. Ini diperparah dengan lingkungan sekitar yang meneror dengan pertanyaan kapan menikah, sekan-akan keputusan menikah atau tidak hanya berada di tangan perempuan tersebut.
“Perasaan tersebut wajar karena 80% perempuan lebih banyak menggunakan otak kanannya dalam menjalani kehidupan. Otak kanan dominasi emosional, membuat perempuan mudah stres, sensitif, dan depresi,” ujar Iffah Lathifah Syarif, S.Psi, psikolog di biro Quantum Cahaya Hanifa,
Meski wajar, bukan berarti mereka boleh memelihara perasaan-perasaan tersebut. Lintasan rasa iri saat melihat teman duduk di pelaminan, kerinduan untuk hamil dan menimang bayi, itu wajar dalam batas-batas tertentu, namun tidak akan membawa efek positif jika dibiarkan berlarut-larut. Justru bisa menjerumuskan perempuan dalam perasaan putus asa, kecewa yang berujung pada sikap rendah diri, dan menutup diri dari lingkungan.
Permainan perasaan kerap memunculkan sisi negatif diri. Angan-angan yang dipelihara bisa menjadi pintu masuk setan menggoda manusia, hingga muncul prasangka bahwa Allah tidak adil, yang akhirnya berujung pada kemalasan beribadah. Sungguh, menanti jodoh adalah ujian yang tidak mudah. Namun jika kita berhasil melaluinya, Allah akan memberi ganjaran yang sebanding.
Masih melajang di usia matang membutuhkan kesiapan mental agar tak mudah menyerah menghadapi kesulitan. “Saya pernah menemui kasus, seorang perempuan yang lama melajang menerima begitu saja lelaki yang melamarnya. Ternyata laki-laki itu hanya memanfaatkan pernikahan tersebut sebagai alat menguras harta istri dan keluarga besarnya. Bertahan 10 tahun, pernikahan mereka berakhir dengan perceraian,” ungkap Iffah.
Kita tak kan pernah tahu kapan jodoh itu datang. Manusia hanya bisa berencana. Namun, ALLAH-lah yang berkehendak atas semuanya. Bisa saja jodoh kita datang menjadi lebih cepat atau bahkan lebih lambat dari rencana kita sebelumnya.
Kita pun tak kan pernah tahu dengan siapa kita berjodoh. Entah itu dengan orang yang sudah dekat dengan kita maupun orang jauh sekalipun yang tak pernah saling bertemu. Atau bahkan kita tak dipertemukan dengan jodoh kita di dunia ini, tapi di syurga-NYA nanti. Allahu Akbar!
Saudaraku, yakinlah bahwa ALLAH telah menyiapkan scenario terbaik untuk kita dalam masalah jodoh. Tak perlu khawatir. Karena ALLAH telah berkata dalam Q.S An-Nahl:72
“Dan Allah telah menjadikan jodoh-jodoh kamu sekalian dari jenismu sendiri, lalu menjadikan anak-anak dan cucu bagi kamu dari jodoh-jodohmu.”
Saudaraku, jangan pernah terbersit sedikitpun bahwa ALLAH tak adil karena sampai saat ini jodoh belum juga menghampiri. Coba instrospeksi diri. Gunakan masa penantian jodoh ini dengan terus

Komentar
Posting Komentar