Terkadang sulit bagi kita untuk memaafkan kesalahan orang lain, terutama kesalahan itu adalah kesalahan yang besar. Tapi jika kita bisa melakukannya, secara tidak langsung kita telah menghapus rasa dendam dan permusuhan. Maaf sebuah kata yang simpel memang, namun bernilai mulia dan luhur. Karenanya dibutuhkan keberanian dan kesungguhan untuk meminta maaf dan hati yang besar untuk memberi maaf. Meskipun hanya 4 huruf, namun untuk memberikan maaf yang tulus itu jauh lebih sulit dibanding mengatakannya.Jika kita memberi maaf kepada orang lain, lakukanlah dengan tulus tanpa syarat.
Salah satu penyebab sulitnya untuk meminta maaf adalah rasa gengsi. Rasa gengsi yang muncul dari status sosial. Biasanya seorang atasan secara psikologis akansulit untuk memaafkan kepada bawahannya. Orang kaya terkadang sulit meminta maaf kepada mereka yang miskin. Para pemimpin terkadang sulit untuk meminta maaf kepada rakyatnya. Rasa gengsi dari status sosial itulah yang menimbulkan beratnya untuk meminta maaf.
Namun harus kita sadari, kita diwajibkan untuk memaafkan kesalahan orang lain, baik itu diminta ataupun tidak. Baik orang yang bersalah itu meminta maaf ataupun tidak. Karena orang yang tidak mau memberi maaf adalah mereka yang sombong. Sebab Allah yang kekuasaan-Nya tidak terbatas pun mau memaafkan hamba-Nya yang mau meminta maaf kepada-Nya.
"Barangsiapa yang memafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah"
(QS: AsySyura: 40)
Di sisi lain, orang yang enggan dan pelit memberi maaf, jiwanya kurang sehat, karena lama-kelamaan endapan kesal, kecewa, dan benci kepada seseorang akan terasa semakin berat dan menjadi beban pikiran serta perasaan.
Orang yang memaafkan secara tulus sesungguhnya akan menyehatkan dirinya sendiri, karena dengan memaafkan, berarti dia mampu menerima kenyataan pahit, kemudian berusaha melupakan, dan seterusnya membuka lembaran baru yang putih dan segar. Dengan demikian, memaafkan, melupakan, dan membangun lembaran baru di hari esok adalah sumber kesehatan seseorang, masyarakat dan bangsa.
Tindakan memaafkan juga meringankan beban psikologis yang akan menyehatkan. Tentu saja, memaafkan yang sehat ada kalanya mesti disertai hukuman dan kemarahan sebagai pendidikan bagi mereka yang berbuat salah. Saya sering merenung, apakah bangsa ini mampu memaafkan terhadap sesamanya ataukah lebih senang balas dendam?
Memaafkan itu bukan aib, bukan pula menunjukkan pribadi yang lemah. Sebaliknya, hanya mereka yang lapang, berjiwa besar, dan memiliki rasa percaya diri serta menjalani hidup dengan ikhlas yang akan bisa memaafkan orang lain. Mungkin Nelson Mandela termasuk pribadi yang mampu memaafkan lawan-lawan politiknya sehingga jiwanya pun tampak sehat.
Komentar
Posting Komentar